Kamus Pintar Kelapa Sawit

Dalam pedoman teknis pembangunan kebun kelapa sawit, dijumpai beberapa istilah sebagai berikut:

Program Revitalisasi Perkebunan, adalah upaya percepatan pengembangan perkebunan rakyat melalui perluasan, peremajaan dan rehabilitasi tanaman perkebunan yang didukung kredit investasi perbankan dan subsidi bunga oleh pemerintan dengan melibatkan perusahaan dibidang usaha perkebunan sebagai mitra dalam pengembangan perkebunan, pengolahan dan pemasaran hasil.

Perluasan, adalah upaya pengembangan areal tanaman perkebunan pada wilayah baru atau pengutuhan areal disekitar perkebunan yang sudah ada dengan menggunakan teknologi.

Peremajaan, adalah upaya pengembangan perkebunan dengan melakukan penggantian tanaman tua/tidak produktif dengan tanaman baru baik secara keseluruhan maupun secara bertahap dengan menggunakan teknologi.

Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), adalah tanaman yang dipelihara sejak bulan penanaman pertama sampai dipanen pada umur 36 – 48 bulan.

Tanaman Menghasilkan (TM), adalah tanaman yang dipelihara sejak lebih dari 36 bulan yang telah berbunga dan berbuah.

Tandan Buah Segar (TBS), adalah buah kelapa sawit yang kriteria siap panennya ditunjukkan antara lain buah telah berwarna merah mengkilat, dan dari 10 kg buah telah ada biji yang membrondol sebanyak 2 biji.

Brondol, adalah biji kelapa sawit yang membrondol (terlepas) dari tandan buah.

Buah matang panen, adalah Tandan Buah Segar yang masih berada dipohon maupun sudah dipanen.

ALB, adalah asam lemak bebas yang menunjukkan kualitas minyak yang dihasilkan dari buah matang panen.

TPH, adalah tempat pemungutan hasil. TPH ini dibuat dalam setiap kebun plasma (kapling) yang berfungsi sebagai tempat penumpukan buah setelah dipanen, sehingga mudah dimuat angkutan pengangkut buah kelokasi PKS.

Etiolasi, adalah tanaman kelapa sawit yang tumbuh tidak normal dengan ciri utama pertumbuhan meninggi.

Pembibitan

Bibit merupakan produk yang dihasilkan dari suatu proses pengadaan bahan tanaman yang dapat berpengaruh terhadap pencapaian hasil produksi pada masa selanjutnya. Pembibitan merupakan langkah awaldari seluruh rangkaian kegiatan budidaya tanaman kelapa sawit. Melaluitahap pembibitan sesuai standar teknis diharapkan dapat dihasilkan bibit yang baik dan berkualitas. Bibit kelapa sawit yang baik adalah bibit yang memiliki kekuatan dan penampilan tumbuh yang optimal serta berkemampuan dalam menghadapi kondisi cekaman lingkungan pada saat pelaksanaan penanaman (transplanting).

Untuk menghasilkan bibit yang baik dan berkualitas seperti tersebut di atas, diperlukan pedoman kerja yang dapat menjadi acuan sekaligus kontrol selama pelaksanaan di lapang. Untuk itu berikut ini disampaikan tahapan pembibitan, mulai dari persiapan, pembibitan awal dan pembibitan utama.

Persiapan Pembibitan

1). Pemilihan Lokasi

Penentuan lokasi pembibitan perlu memperhatikan beberapa persyaratan sebagai berikut:

•  Areal diusahakan memiliki topografi yang rata dan berada dekat dengan are penanaman serta bebas banjir.

•  Khusus lahan gambut, areal bibitan diusahakan dekat tanah mineral.

•  Dekat dengan sumber air yang mengalir sepanjang tahun

•  Memiliki akses jalan yang baik, sehingga memudahkan dalam pengawasan

•  Terhindar dari gangguan hama, penyakit, ternak dan manusia

2). Luas Pembibitan

Kebutuhan areal pembibitan umumnya 1,0–1,5% dari luas areal pertanaman yang direncanakan. Luas areal pembibitan yang dibutuhkan bergantung pada jumlah bibit dan jarak tanam yang digunakan. Dalam menentukan luasan pembibitan perlu diperhitungkan pemakaian jalan, yang untuk setiap hektar pembibitan diperlukan jalan pengawasan sepanjang 200 m dengan lebar 5 m.

3). Sistem Pembibitan

Pembibitan kelapa sawit dapat dilakukan dengan menggunakan satu atau dua tahapan pekerjaan, tergantung kepada persiapan yang dimiliki sebelum kecambah dikirim ke lokasi pembibitan. Untuk pembibitan yang menggunakan satu tahap (single stage), berarti penanaman kecambah kelapa sawit langsung dilakukan ke pembibitan utama (main nursery).

Sedangkan pada sistem pembibitan dua tahap (double stage), dilakukan pembibitan awal (pre nursery) terlebih dahulu selama + 3 bulan pada polybag berukuran kecil dan selanjutnya dipindah ke pembibitan utama (main nursery) dengan polybag berukuran lebih besar.

Sistem pembibitan dua tahap banyak dilaksanakan oleh perusahaan perkebunan, karena memiliki beberapa keuntungan, antara lain:

•  Kemudahan dalam pengawasan dan pemeliharaan serta tersedianya waktu dalam persiapan pembibitan utama pada tiga bulan pertama.

•  Terjaminnya bibit yang akan ditanam ke lapang karena telah melalui beberapa tahapan seleksi, baik di pembibitan awal maupun di pembibitan utama.

•  Seleksi yang ketat (5-10%) di pembibitan awal dapat mengurangi keperluan tanah dan polybag besar di pembibitan utama.

4). Media Tanam

Media tanam yang digunakan seharusnya adalah tanah yang berkualitas baik, misalnya tanah bagian atas (top soil) pada ketebalan 10-20 cm.

Tanah yang digunakan harus memiliki struktur yang baik, gembur, serta bebas kontaminasi (hama dan penyakit, pelarut, residu dan bahan kimia).

Bila tanah yang akan digunakan kurang gembur dapat dicampur pasir dengan perbandingan pasir : tanah = 3 : 1 (kadar pasir tidak melebihi 60%). Sebelum dimasukkan ke dalam polybag, campuran tanah dan pasir diayak dengan ayakan kasar berdiameter 2 cm. Proses pengayakan bertujuan untuk membebaskan media tanam dari sisa-sisa kayu, batuan kecil dan material lainnya.

5). Kantong Plastik (Polybag)

Ukuran polybag tergantung pada lamanya bibit di pembibitan. Pada tahap pembibitan awal, polybag yang digunakan berwarna putih atau hitam dengan ukuran panjang 22 cm, lebar 14 cm, dan tebal 0,07 mm. Di setiap polybag dibuat lubang diameter 0,3 cm sebanyak 12-20 buah.

Pada tahap pembibitan utama digunakan polybag berwarna hitam dengan ukuran panjang 50 cm, lebar 37-40 cm dan tebal 0,2 mm. Pada setiap polybag dibuat lubang diameter 0,5 cm sebanyak 12 buah pada ketinggian 10 cm dari bawah polybag.

 

Pembibitan Awal

1). Bedengan

Bedengan dibuat pada areal yang telah diratakan dengan ukuran lebar + 1,2 m dan panjang + 8 m untuk setiap bedengan. Tepi bedengan dilengkapi dengan papan atau kayu setinggi + 20 cm agar polybag dapat disusun tegak. Jarak antar bedengan 80 cm, berfungsi sebagai jalan pemeliharaan, pengawasan dan pembuangan air yang berlebihan saat penyiraman atau waktu hujan. Bedengan ukuran 1,2 x 8 m dapat memuat 1.000 bibit. Untuk 15.000 kecambah atau 75 ha tanaman di lapangan diperlukan areal pembibitan awal seluas + 250 m2 atau + 15 bedengan.

Bagian dasar bedengan dibuat lebih tinggi dari permukaan tanah untuk memperlancar drainase.

2). Naungan

Naungan di pembibitan awal berfungsi untuk mencegah bibit kelapa sawit terkena sinar matahari secara langsung. Selain itu, naungan juga berfungsi untuk menghindari terbongkarnya tanah di polybag akibat terpaan air hujan. Dalam pembuatan naungan perlu diatur intensitas penerimaan cahaya matahari yang masuk, dengan pengaturan sebagai berikut:

Tabel  Pengaturan Naungan

No

Umur (bulan)

Naungan (%)

1

0 – 1,5

100

2

1,5 – 2,5

50

3

>2,5

Naungan dihilangkan secara bertahap

Naungan dibuat dengan ukuran lebar 3 m, panjang 50 m (sesuai kebutuhan) dan tinggi 2,5 m. Konstruksi naungan dapat dibuat dari bambu maupun kayu bulat dengan atap dari daun kelapa atau daun kelapa sawit.

3). Penanaman Kecambah

Kecambah kelapa sawit yang telah diterima diusahakan segera ditanam pada polybag yang telah disediakan. Keterlambatan penanaman akan mengakibatkan kerusakan atau kelainan pada kecambah tersebut, antara lain:

•  Bakal akar dan daun akan menjadi panjang, sehingga mempersulit penanaman

•  Bakal akar dan daun akan mudah patah

•  Kecambah akan mengalami kerusakan, karena terserang jamur

•  Kecambah akan menjadi mati/kering karena kekurangan air.

Kecambah yang ditanam adalah kecambah yang telah dapat dibedakan antara bakal daun (plumula) dan bakal akar (radicula). Bakal daun ditandai dengan bentuknya yang agak menajam dan berwarna kuning muda, sedangkan bakal akar berbentuk agak tumpul dan berwarna lebih

kuning dari bakal daun.

Pada waktu penanaman harus diperhatikan posisi dan arah kecambah, plumula menghadap ke atas dan radicula menghadap ke bawah.

Kecambah yang belum jelas bakal akar dan daunnya dikembalikan kedalam kantong plastik dan disimpan dalam kondisi lembab, selama beberapa hari bisa ditanam kembali.

Pelaksanaan penanaman biasanya dilakukan oleh satu regu yang terdiri dari 3 orang pekerja. Dalam pelaksanaannya, setiap pekerja dalam satu regu memiliki tugas tersendiri, yaitu:

•  Pekerja pertama bertugas membuat lubang sedalam + 3 cm dengan jari tangan atau kayu pada bagian tengah media tanam.

•  Pekerja kedua bertugas membawa kecambah dan memasukkan ke dalam lubang yang telah dibuat.

•  Pekerja ketiga bertugas menutup tanah dan menekan sekeliling lubang yang telah dibuat dengan jari.

Kecambah ditanam pada kedalaman + 1,5 cm dari permukaan tanah.

Kesalahan-kesalahan dalam penanaman akan dapat menimbulkan kelainan pada bibit, antara lain:

•  Bibit yang terputar karena penanaman radicula menghadap keatas

•  Akar bibit terbongkar karena penanaman yang terlalu dangkal

•  Bibit menguning karena media terlalu banyak mengandung pasir

•  Bibit mati (busuk) karena tergenang air penyiraman atau air hujan

Untuk mencegah hal ini, maka konsolidasi pada pembibitan awal perlu dilakukan setiap hari. Pengaturan tata letak penanaman dilakukan berdasarkan kode benih, origin atau grup sesuai anjuran. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi percampuran antara kelompok benih dengan pertumbuhan meninggi sangat cepat dengan kelompok benih yang memiliki pertumbuhan meninggi lambat. Pengelompokkan benih secara benar akan menghindari terjadinya kesalahan seleksi selama di pembibitan.

4). Pemeliharaan Pembibitan Awal

a. Penyiraman

Penyiraman dilakukan dua kali sehari, yaitu pada pagi dan sore hari.

Penyiraman dilakukan secara hati-hati agar kecambah tidak terbongkar atau akar-akar bibit muda muncul ke permukaan. Setiap bibit memerlukan 0,10-0,25 liter air pada setiap kali penyiraman. Apabila curah hujan > 8 mm per hari maka tidak perlu dilakukan penyiraman.

b. Pengendalian Gulma

Gulma yang tumbuh di kantong polybag perlu disiangi secara manual dengan rotasi 2 minggu sekali. Pelaksanaan penyiangan biasanya diiringi dengan penambahan tanah pada polybag. Penyiangan juga ditujukan untuk mencegah pengerasan permukaan tanah.

c. Pemupukan

Pemupukan dilakukan menggunakan urea atau pupuk majemuk dengan konsentrasi 0,2% atau 2 gr/l air. Pemupukan dilakukan secara foliar application (melalui daun). Setiap liter larutan cukup untuk 100 bibit.

Frekuensi pemberian pupuk seminggu sekali.

d. Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama yang umum mengganggu bibit pre nursery adalah semut, jangkerik, belalang, tikus dan cacing. Sedangkan penyakit yang umum adalah Helminthosporium, Anthracnosa dan blast. Penggunaan bahan kimia dalam pengendalian harus dilakukan secara hati-hati karena bibit muda masih sangat peka.

5). Seleksi Bibit

Seleksi bertujuan untuk menghindari terangkutnya bibit abnormal ke tahap pembibitan selanjutnya. Bibit abnormal dapat disebabkan oleh faktor genetis, kesalahan kultur teknis atau serangan hama dan penyakit.

Seleksi dilaksanakan saat pindah tanam. Tanaman normal pada umur 3 bulan, biasanya telah memiliki 3-4 helai daun dan telah sempurna bentuknya.

Pelaksanaan seleksi dilakukan secara berurutan pada tiap

persilangan/bedengan dengan membuang bibit abnormal. Persentase bibit yang terseleksi saat transplanting ke pembibitan utama mencapai + 5 – 10%.

6). Pemindahan dan Pengangkutan Bibit

Pemindahan bibit dari pembibitan awal dilakukan pada saat bibit berumur 2,5 – 3 bulan dengan jumlah daun 3 – 4 helai daun. Bila areal pembibitan awal berdekatan dengan pembibitan utama maka bibit yang akan ditanam dapat diangkut menggunakan kotak kayu dengan ukuran 70x50x20 cm.

2.4.3. Pembibitan Utama

Pembibitan utama merupakan tahap kedua dari sistem pembibitan dua tahap. Pada tahap ini bibit dipelihara dari umur 3 bulan hingga 12 bulan.

Keberhasilan rencana penanaman di lapangan dan capaian tingkat produksi pada kemudian hari ditentukan oleh pelaksanaan pembibitan utama dan kualitas bibit yang dihasilkannya.

1). Persiapan dan Pengolahan Tanah

Persiapan dilakukan dengan meratakan areal menggunakan bulldozer.

Tanah dikikis setebal + 10 cm dikumpulkan ke bagian tepi areal. Tanah hasil kikisan dapat digunakan sebagai media tanam. Prosedur pembukaan areal pembibitan sama seperti prosedur pembukaan areal untuk pertanaman kelapa sawit.

2). Kebutuhan Air dan Instalasi Penyiraman

Faktor yang sangat penting untuk menjamin keberhasilan pembibitan adalah kemampuan menyediakan air untuk bibit dalam jumlah yang cukup dengan jaringan irigasi yang baik. Kebutuhan air di pembibitan bertambah sejalan dengan pertambahan umur bibit. Di pembibitan utama, bibit akan tumbuh secara normal bila kebutuhan airnya terpenuhi, yaitu sebesar 12,5 mm (ekivalen hujan) setiap 2 hari. Volume air yang diberikan dengan sistem sprinkler di pembibitan utama harus memenuhi kebutuhan tersebut.

Sistem penyiraman dengan sprinkler dianjurkan pada areal dengan ketersediaan sumber air yang cukup. Pada sumber air yang terbatas, penyiraman dianjurkan menggunakan pipa dan selang plastik yang dilengkapi dengan kepala gembor. Sistem ini dapat menghemat pemakaian air sesuai kebutuhan bibit di dalam polybag.

3). Pemasangan Pipa untuk Penyiraman Sistem Gembor

•  Pipa primer dipasang di tengah-tengah yaitu di pinggir jalan utama (Ø 6 inch).

•  Dari pipa primer ini dibuat cabang-cabang dengan pipa ukuran Ø 2 inch.

•  Dari pipa Ø 2 inch dibuat cabang lagi dengan ukuran Ø 1 inch.

•  Dari ujung pipa ini dibuat kran, kemudian disambung slang plastik yang panjangnya 25 m dan pada ujung selang diberi kepala gembor untuk penyiraman.

4). Penyiraman dengan Sprinkler

Penyiraman dengan sistem sprinkler memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari sistem sprinkler adalah distribusi air yang merata pada setiap bibit dan biaya operasional penyiraman lebih murah.

Sedangkan kekurangannya dilihat dari mahalnya biaya investasi, kebutuhan air yang lebih banyak dan memungkinkan terjadinya pengenangan di areal pembibitan bila sistem drainasenya kurang berfungsi.

Sistem penyiraman sprinkler terdiri dari beberapa komponen utama, meliputi jaringan pipa (pipa induk, pipa utama, dan pipa distribusi), nozzle sprinkler dan pompa air.

a. Pipa Induk

Pipa induk adalah pipa yang menghubungkan rumah pompa dengan pompa lainnya. Besar kecilnya pipa induk bergantung pada debit air maksimum yang diinginkan. Diameter pipa yang umum digunakan adalah 6 inch (15 cm)

b. Pipa Utama

Pipa utama adalah pipa yang berfungsi sebagai pipa penyalur dan menghubungkannya dengan pipa distribusi. Diameter pipa utama 4 inch dan dilengkapi dengan kran pengatur.

c. Pipa Distribusi

Pipa distribusi umumnya memiliki diameter 2 inch. Di setiap sambungan pipa distribusi dilengkapi dengan sambungan pipa 0,75 inch yang dapat dibongkar pasang dengan cepat. Pada ujung bagian atas pipa 0,75 inch (stand pipes) dilengkapi dengan nozzle sprinkler yang dapat memancarkan air secara berputar.

d. Pompa Air

Untuk menjamin distribusi air yang merata, terutama daya pancar air pada sprinkler, diusahakan sprinkler memiliki tekanan air pada out let 45 psi (3,6 kg/cm2). Kekuatan tekanan air dapat diatur sesuai dengan jarak dan ketinggian bibit. Pompa air yang dibutuhkan memiliki kekuatan 18- 20 HP untuk setiap 5 ha pembibitan.

e. Kebutuhan sprinkler (nozzle)

Untuk setiap 5 ha pembibitan dibutuhkan 30 sprinkler. Sebanyak 20 sprinkler ditujukan untuk kepentingan operasional (2 line pipa distribusi = 20 sprinkler) dan 10 sprinkler untuk dipersiapkan di areal berikutnya.

f. Tata Letak Sprinkler (Lay Out)

Pada setiap pipa distribusi biasanya berisi 8-10 sprinkler. Jarak antara sprinkler satu dengan yang umumnya 9 m. Areal pembibitan dibagi menurut pipa utama. Setiap pipa utama mencakup luasan 5 ha pembibitan. Setiap areal pipa utama dibagi dua, kiri dan kanan (A dan B).

Pembagian areal ditujukan untuk mengatur jadwal penyiraman.

5). Pemancangan

Pemancangan dilaksanakan bila pembuatan jaringan pipa penyiraman telah selesai. Pola tanam yang digunakan adalah pola tanam segi tiga sama sisi dengan jarak tanam 90 cm x 90 cm x 90 cm. Jarak antar barisan di pembibitan adalah 0,867 x 90 cm = 77,9 cm ~ 78 cm. pemancangan dapat menggunakan metode empat persegi panjang dengan sisi 90 cm x 156 cm. Empat titik sudut empat persegi panjang dan titik temu diagonalnya adalah titik tanam.

6). Pengisian Tanah ke Polybag

Tanah yang digunakan untuk pengisian polybag diusahakan tanah yang kering. Hal ini bertujuan untuk mempermudah proses pengayakan. Pengisian tanah dilakukan sampai 3 cm dari permukaan polybag. Rata-rata bobot tanah untuk setiap polybag + 20 kg. setelah pengisian, media perlu disiram setiap hari, selama 7-10 hari sebelum penanaman.

Pemilihan jenis tanah sebagai media tanam merupakan faktor penentu untuk keberhasilan pembibitan. Tanah yang berasal dari lokasi dengan tingkat kesuburan yang baik akan sangat membantu pertumbuhan vegetatif bibit.

7). Pembuatan Lubang pada Polybag

Untuk mempercepat dan mempermudah pembuatan lubang pada media tanam di polybag perlu dibantu dengan alat khusus seperti sekop kecil, tugal, dan bor tanah. Kedalaman lubang disesuaikan dengan ukuran polybag kecil. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat persiapan transplanting:

•  Media tanam pada polybag perlu disiram air sampai jenuh sehari sebelumnya untuk mempermudah pembuatan lubang.

•  Pembuatan lubang dengan alat tanam diusahakan pada bagian tengah permukaan tanah polybag agar pertumbuhan akar tanaman merata.

•  Pada setiap lubang diberi pupuk NPKMg (15-15-6-4) sebanyak 5 gram.

8). Penanaman Bibit

Pengaturan tata letak bibit di pembibitan utama disesuaikan dengan tata letak di pembibitan awal yaitu dengan memperhatikan kode benih, origin dan group pertumbuhan. Hal ini bertujuan untuk menghindari bercampurnya bibit dengan sifat pertumbuhan yang berbeda.

Pengelompokan bibit ini juga memudahkan pengaturan pada waktu penanaman di lapangan.

Kelancaran penanaman bibit ke main nursery bergantung pada kecepatan membuat lubang tanaman di pembibitan utama, kecepatan mengangkut bibit dari pembibitan awal ke pembibitan utama dan kecepatan serta ketrampilan menanam bibit tersebut.

Bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam setelah kantong polybag kecil dibuang. Tanah di sekeliling lubang ditekan padat merata, selanjutnya dilakukan penambahan tanah hingga sebatas leher akar. Bagian atas kantong plastik setinggi 2 –3 cm dibiarkan kosong sebagai tempat

meletakkan pupuk, air ataupun mulsa pada saat diperlukan.

Penanaman bibit harus terorganisir dengan baik, setiap jenis persilangan ditanam mengelompok. Jenis persilangan satu sama lain harus diberi tanda yang jelas dan diberi papan nama di lapangan. Sebaiknya satu hari penanaman difokuskan untuk satu jenis persilangan saja. Jenis persilangan, nomor petak, jumlah bibit per petak harus dicatat dan dipetakan langsung setelah tanam agar tidak terjadi kekeliruan.

9). Pemeliharaan Pembibitan Utama

a. Penyiraman

Kebutuhan air di pembibitan utama adalah 2 ltr/hari/polybag. Volume air tersebut dihitung dengan dasar curah hujan 12,5 mm/hari equivalent 123 m3 air/ha areal. Bibit disiram dua kali sehari, pada pagi dan sore hari. Penyiraman tidak dilakukan bila curah hujan > 8 mm. Penyiraman dapatdilakukan dengan selang berkepala gembor atau sprinkler.

b. Penyiangan

Kegiatan penyiangan di pembibitan utama terdiri dari dua macam yaitu penyiangan tanah di sekitar polybag dan di dalam polybag. Tujuan penyiangan di sekitar polybag adalah membersihkan pembibitan dari vegetasi selain bibit kelapa sawit. Penyiangan di dalam polybag selain berfungsi membersihkan gulma, juga mencegah terbentuknya suatu lapisan kedap air di permukaan tanah. Terbentuknya lapisan kedap air akan menyebabkan turunnya kemampuan untuk menerima air siraman.

c. Pemberian Mulsa

Pemberian mulsa dilakukan untuk mengurangi penguapan air maupun pupuk. Mulsa diberikan dalam bentuk sisa tanaman atau cangkang sawit. Mulsa diletakkan disekeliling bibit dalam kantong setelah bibit berumur 2 bulan dengan ketebalan 1-2 cm.

d. Pemupukan

Pada umumnya pemupukan bibit kelapa sawit dilakukan menggunakan pupuk majemuk NPKMg. Penambahan unsur lain dilakukan jika terdapat gejala difisiensi. Jenis pupuk yang dipakai ialah jenis pupuk majemuk NPKMg (15-15-6-4) sampai umur + 5 bulan dan selanjutnya dipakai pupuk majemuk NPKMg (12-12-17-2).

e. Pengendalian Hama dan Penyakit.

Beberapa hama yang umum dijumpai di pembibitan utama adalah kumbang Apogonia, belalang,  kumbang Apogonia, belalang dan ulat api dilakukan dengan menyemprotkan Sevin 0,15% (1,5 g bahan aktif/ l air) ke tanaman dengan interval 10 hari sekali hingga hamanya menghilang. Pengendalian tikus dapat dilakukan dengan memakai racun tikus. Pengendalian keong dapat dilakukan secara manual dengan tangan atau secara kimia menggunakan racun.

Penyakit yang dijumpai di pembibitan utama adalah penyakit daun Anthracnosa dan Curvularia. Bibit yang terserang Anthracnosa memiliki gejala daun yang mengering mulai dari ujung dan tepi-tepinya. Pengendalian Anthracnosa dilakukan dengan fungisida Mannozeb 0,1% dengan rotasi penyemprotan 2 minggu sekali. Gejala penyakit Curvularia ialah bintik-bintik kuning di tengah daun. Bintik-bintik ini kemudian meluas dan warnanya berubah menjadi coklat. Bila dijumpai bibit dengan gejala tersebut, maka tindakan yang harus dilakukan adalah dengan memotong daun yang sakit dan membakarnya.

Bila ditemukan gejala serangan yang lebih parah maka bibit tersebut harus disingkirkan dari pembibitan utama secepatnya dan kemudian dibakar. Pengendalian Curvularia dilakukan melalui penyemprotan fungisida Kaptafol 0,2% dengan rotasi 2 minggu. Dalam kegiatan pengendalian diupayakan untuk tidak menggunakan fungisida yang mengandung tembaga (copper), air raksa (mercury) dan timah.

10). Seleksi Bibit

Perbedaan pertumbuhan bibit dipembibitan utama dapat disebabkan oleh faktor genetis dan perbedaan kultur teknis yang diterima masing-masing bibit. Kegiatan seleksi diharapkan hanya pada tanaman abnormal yang disebabkan oleh pengaruh faktor genetis, sehingga diusahakan tidak terdapat kesalahan kultur teknis yang dapat menyebabkan timbulnya tanaman abnormal.

 

11). Persiapan Bibit untuk Penanaman

Bibit yang berumur 10-12 bulan telah siap untuk dipindahkan ke lapangan. Lebih kurang 15-20 hari sebelum diangkut dilakukan pemutusan akar-akar bibit yang telah menembus polybag. Untuk menjaga kondisi bibit agar tetap baik perlu dilakukan penyiraman yang intensif setelah proses pemutusan akar.

Bibit-bibit yang telah siap dikumpulkan/dikelompokkan berdasarkan persilangan. Pengelompokan diatur setiap 100-200 bibit dan disesuaikan dengan kapasitas angkut mobil. Dengan sistem pengelompokkan ini akan memudahkan perhitungan bibit yang telah dan akan diangkut. Seleksi bibit terakhir dilaksanakan bersamaan dengan pengelompokan bibit.

Sebelum bibit diangkut ke truk sebaiknya disiram dengan air sebanyakbanyaknya untuk menghindari kekeringanan jika beberapa hari setelah ditanam tidak turun hujan. Dalam persiapan ini harus diperhatikan teknik pengangkutan bibit. Bibit diangkut tegak lurus dengan dipegang bagian polybag, bukan bagian daun atau batang. Teknik pengangkutan ini akan

menghindari pecahnya tanah dalam polybag dan rusaknya polybag sebelum ditanam.

CPO, adalah Crude Palm Oil/Minyak Kelapa Sawit Mentah.

4 responses to “Kamus Pintar Kelapa Sawit

  1. lumayan bagus !.. cukup informatif n edukatif …ada saran nih bro sub judul sebaiknya dg warna yg berbeda agar lbh atraktiv..ada kolom motivasi jg dong…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s